Rabu, 18 September 2019

Pengalaman Pribadi Mengikuti Seleksi CPNS Part 1 : Seleksi Administrasi & Tes Seleksi Kompetensi Dasar (SKD)


Ehm.. bingung harus mulai dari mana
Salam aja dulu kali yaa, biar berkah hehe

Assalamualaikum wa rahmatullaahi wa baraakaatuh (Wajib dijawab!)

Oke netijen, kali ini aku mau berbagi cerita terkait pengalamanku mengikuti salah satu seleksi yang paling banyak menyita perhatian masyarakat Negara +62 di tahun 2018 baik mereka yang sudah bekerja maupun para job seeker alias pencari kerja. Udah pada tau kan seleksi apa? (yaiyalah orang judulnya aja pengalaman mengikuti tes CPNS) Benul (Benar dan Betul) sekali gaes jadi aku mau cerita pengalamanku mengikuti tes seleksi CPNS TA 2018!

*semua yg diceritakan adalah murni sesuai dengan kejadian ketika mengikuti tes cpns 2018, apabila dikemudian hari ada ketidaksamaan dengan pelaksanaan tes cpns untuk tahun-tahun berikutnya maka resiko ditanggung pembaca

Oke lanjut lagi tanpa kebanyakan basa-basi. Jadi aku tuh ikut tes CPNS 2018, seperti yg kalian ketahui bahwa pada tahun tersebut MENPAN-RB resmi membuka pendaftaran cpns dengan formasi sebanyak 282.xxx (lupa tepatnya, intinya 200rb lebih wkwk) yang tersebar diberbagai macam instansi baik Kementerian, Pemda, Pemkot, Pemprov, dan lembaga-lembaga pemerintah lainnya. Dengan jumlah formasi sebanyak itu, jumlah pendaftar sampai batas akhir pendaftaran tercatat sebanyak 3,6jt orang lebih! (termasuk aku tuh) dan Instansi yang paling banyak peminatnya adalah Kemenkumham dengan 487.071 pelamar lalu diikuti Kemenag dengan 265.264 pelamar.

Nah, aku ini termasuk salah satu dari 265rb sekian pelamar yang mendaftar ke Kemenag. Jadi, ceritaku ini spesifik tentang seleksi cpns kemenag yaa, walaupun di tahap awal tes pelaksanaannya sama dengan Instansi manapun. Jadi bagi yg cari info terkait tata cara pelaksanaan tes cpns selain untuk Kemenag tetep boleh nyimak sampe pelaksanaan tes SKD, etapi simak aja semua ceritanya karna dijamin seru 😅

Udah kebanyakan basa-basinya nih ah, lanjut ke tahapan yang harus dilalui dalam pelaksanaan Seleksi CPNS TA 2018 aja yekan. Cekidooot…!

1.      Tentukan Formasi/Jabatan yg akan kalian pilih

Nah gaes para netijen budiman, tahapan pertama dalam seleksi ini tentunya kalian memilih atau setidaknya harus tau dulu jabatan/formasi apa yang tersedia dan sesuai dengan background pendidikan kalian. Kenapa aku bilang sesuai dengan background pendidikan kalian? Jawabannya karna kalo gak sesuai kalian pasti Auto gugur alias gak bakal keterima 😜 ini hal sepele tapi penting gaes, pendidikan kalian harus bener-bener sesuai atau tertera pada persyaratan yang ada di formasi tersebut karna kalo gak sesuai sekalipun kalian lolos seleksi sampai akhir tapi akan bermasalah ketika proses pertek nip, dan jangan juga kalian pilih formasi yang persyaratan pendidikannya mirip dengan kalian tapi sebetulnya itu beda, paham gak? -_- contohnya gini, di Pemkot Bogor membutuhkan 1 guru Biologi dan persyaratan formasi/jabatan nya adalah lulusan S1 dengan jurusan Pendidikan Biologi, naaah kan ada tuh jurusan Biologi aja tanpa embel-embel Pendidikan dan kalo dipikir-pikir yaa sama aja itu Biologi, tapiii bagi kalian yang lulusan Biologi (aja, atau murni?) jangan coba-coba mendaftar ke formasi/jabatan tersebut karna aku berani jamin 100% kalian gak bakal lolos jadi CPNS! Sekarang paham ya?

Tips dalam memilih formasi/jabatan buat kalian adalah; pertama tentunya ada jurusan/background pendidikan kalian yang dipersyaratkan untuk melamar formasi/jabatan tersebut (mutlak), kedua jika ternyata jurusan kalian terdapat di banyak formasi pilihlah yang paling sesuai dengan kemampuan/keahlian dan passion yg kalian miliki, ketiga melihat peluang berdasarkan jumlah formasi yang banyak tersedia itu penting tapi poin nomor 2 lebih penting (jangan karna jumlah ketersediaan formasi Analis Jabatan {missal 10 formasi} lebih banyak dibanding formasi Konselor {missal 2 formasi} jadinya kalian pilih formasi Analis jabatan padahal kemampuan/keahlian kalian itu dibidang konseling, ngerti ya?) Percayalah, Allah akan menempatkan kalian sesuai dengan kemampuan kalian!  

Lanjut tahap berikutnya..

2.      Seleksi Administrasi

Oia, informasi terkait jabatan/formasi apa saja yang tersedia dalam Seleksi CPNS itu bisa kita liat di sscn.bkn.go.id (tahun 2018) atau sscasn.bkn.go.id (tahun 2019) setelah MENPAN-RB resmi membuka pendaftaran yaa, Dan biasanya gak akan langsung semua formasi tersedia informasinya ketika hari pertama pembukaan pendaftaran, bertahap gaes tentunya karna buaanyaaak sekali formasi/jabatan yang tersedia tuh.

Nah setelah kita menentukan formasi apa yang mau kita lamar, yang harus dilakukan selanjutnya adalah melihat persyaratan yang diminta oleh instansi tersebut untuk bisa mengikuti/masuk ke dalam peserta yang akan ikut ujian. Biasanya detail mengenai persyaratan sudah tersedia di web sscasn.bkn.go.id tersebut, namun untuk memastikan bahwa seluruh persyaratan gak ada yang kalian lewatkan kalian bisa memastikan lebih lanjut di web instansi yang kalian tuju. Misalnya formasi yang kalian tuju berada dibawah Kementerian Perhubungan, maka kalian bukalah web Kementerian tersebut karna pasti ada keterangan lebih lanjut terkait formasi yang kalian pilih.

Di seleksi administrasi ini bukan berarti kalian bisa lolos dengan mudah yaa, semua persyaratan yang diminta harus semuanya dipenuhi, semua! Tanpa terkecuali meskipun itu syarat yang aneh-aneh :D perhatikan hal-hal kecil yang kadang dianggap sepele oleh pelamar, misalnya salah satu persyaratan yaitu diminta legalisir ijazah dengan tanggal legalisir setelah dibukanya pendaftaran, maka kalian harus bener-bener melampirkan legalisiran yang cap tanggalnya setelah dibuka pendaftaran, bukan sebelumnya. Terkadang hal-hal kecil kaya gini yang justru menggugurkan kalian di tahap ini kalo gak bener-bener sesuai dengan persyaratan yang diminta. Oia gak semua instansi persyaratannya sama ya, ada beberapa instansi yang minta sertifikat TOEFL misalnya, ada juga yang enggak. Ada instansi yang membolehkan calon Guru BK diisi dari selain lulusan BK (Psikologi misalnya) ada juga yang mutlak harus lulusan BK. Jadi, kita harus bener-bener memperhatikan setiap detail persyaratan yang diminta yaa gaes. Rata-rata instansi hanya meminta kita melampirkan semua persyaratan via daring saja, tapi ada juga yang meminta kita mengantarkan/kirim via pos berkas fisik tersebut ke satuan kerja yang kita tuju, Kementerian Agama contohnya. Dan jangan lupa berdoa tentunya 👊👊👊   

Waktu itu aku milih Formasi Guru Bimbingan dan Konseling Ahli Pertama gaes di bawah naungan Kementerian Agama Kantor Wilayah Jawa Barat, jumlah formasi yang tersedia buat guru BK di Kanwil Jabar itu sebanyak 38 formasi waktu aku mendaftar. Total pendaftar yang memilih formasi ini sekitar seribuan orang, tapi yang lulus tahap seleksi administrasi itu sebanyak 750 lebih termasuk aku di dalamnya, jadi sainganku buat dapetin kursi CPNS di Kemenag ini kurleb 1:20 lah ya, gak terlalu banyak saingannya kalo dibanding formasi yg lain. Hehe. Gak sia-sia perjuangan dari Bogor ke Malang buat legalisir ijazah, pulang dari Malang ku langsung lanjut ke Bandung buat nyerahin berkas-berkas pendaftaran ke Kementerian Agama Kanwil Jawa Barat, karna Kementerian Agama ini minta pendaftar ngirim berkas fisik yaa ke satuan Kanwil tempat formasi kita berada, pengiriman berkasnya boleh dianter langsung atau via pos. Setelah menunggu kurleb 2 minggu sejak penutupan pendaftaran, akhirnya ada pengumuman kelulusan seleksi administrasi ini di web Kemenag atau kalo mau lebih update pantengin aja chanel telegramnya Kemenag di "Kementerian Agama RI", dan alhamdulillah aku lolos seleksi administrasi 😄

3.      Seleksi Kompetensi Dasar (SKD)

Setelah dinyatakan lulus seleksi administrasi (pengumumannya via web masing-masing instansi) tahap berikutnya yang harus dilalui adalah Seleksi Kompetensi Dasar atau disingkat SKD. Pada tahap ini kita akan diuji terkait 3 kemampuan dasar kita yaitu Tes Intelegensi Umum (TIU), Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), dan Tes Kepribadian (TKP). Masing-masing subtes punya nilai ambang batas/passing grade yang harus dipenuhi agar bisa lolos di tahap SKD. Subtes TIU punya passing grade sebesar 80/160 (160 adalah nilai tertinggi yang bisa kalian peroleh), subtes TWK pun sama 80/175, lalu subtes TKP sebesar 143/175 passing grade nya (kalo gak ada perubahan), Total soal yang harus kalian kerjakan adalah 100 soal dengan rincian 35 soal TWK, 35 soal TKP, dan 30 soal TIU.

Tes SKD ini pelaksanaan nya pake sistem CAT ya, CAT itu Computer Assisted Test. Penggunaannya gampang kok, sebelum mulai pun kita bakal dikasih instruksi dan cara menggunakan CAT tersebut. Tes nya ini bentuknya pilihan ganda yaa, di setiap soal ada 5 pilihan jawaban (A sampe E), sistem penilaiannya itu tiap soal yang betul nilainya 5 (TIU & TWK) dan tidak ada pengurangan nilai kalo jawaban kita salah, jadi semua harus diisi ya walaupun kita gak yakin soal kebenaran jawabanya (tang ting tung aja haha). Nah di subtes TKP yang agak berbeda nih, pilihan jawabannya adalah pernyataan-pernyataan yang akan kita pilih berdasarkan kondisi yang menurut kita paling sesuai, nilai jawaban di tiap pernyataan itu paling kecil nilainya 1 dan paling besar nilainya 5. Mungkin diantara kalian ada yang mulai bepikir ‘ahh gampang TKP sih, toh Cuma pernyataan aja yg sesuai sama kita itu gimana’ hehe, tapi percayalah di tahun 2018 justru subtes TKP lah yg paling banyak menggugurkan peserta.

SKD ini pelaksanaannya per-kementerian ya, jadi gak semua serentak berbarengan seluruh Indonesia. Cepat atau lambat pelaksanaannya itu tergantung dari sedikit banyaknya peserta yang mendaftar. Ketika pengalaman aku sih Kemenag itu termasuk yang menyelenggarakan SKD nya di akhir batas waktu penyelenggaraan, maklum karna pesertanya banyak. Bayangkan aja di Kanwil Jawa Barat pendaftarnya itu 25rb lebih, sedangkan ketersediaan formasi hanya sekitar 700. Jadi ketika pelaksanaan SKD itu Subhanallah sekali dalam satu sesi ujian kita langsung berbarengan dengan seribu peserta yang dikumpulkan di dalam aula yg besar haha. Jadi gak heran tuh, waktu itu aku dapet jadwal ujian jam 09:30 sesi kedua di hari tersebut tapi aku diwajibkan untuk hadir di lokasi 2 jam sebelum jadwal ujian! Kok bisa? Yaa tentunya karna sebelum kita ujian itu ada registrasi dulu, absen dulu, dan antrinya luar biasa gaes dari seribu orang itu dibagi jadi 5 meja registrasi dan pastinya memakan waktu yang lama. Pas kita mulai masuk ke ruang ujian itu gak ada yg boleh dibawa kecuali pensil dan kartu ujian, udah itu aja. Pensil itu peruntukannya buat kita bikin kotretan yaa karna nanti di tempat ujian kita dikasih kertas burem barangkali mau ngotret. Haha

Oh iya, waktu yang diberikan buat kita ngerjain 100 soal itu 90 menit, jadi bisa kita artikan bahwa 1 soal maksimal kita kerjakan dalam 1 menit. Urutan subtesnya itu TWK 35 soal, TIU 30 soal, baru TKP 35 soal, gak ada pemisah yang jelas ya Antara subtes itu, jadi ketika udh sampe di nomor soal 35 maka nomor selanjutnya (36) udh masuk di subtes TIU, satu-satunya petunjuk aku sedang ngerjakan subtes apa itu ada di pojokan kanan atas di display CAT kita. Aku sih ngerjain SKD itu dari subtes TKP dulu, kenapa? Karna TKP itu soalnya panjang-panjang gaes (bentuk cerita) dan plihan jawabannya pun panjang-panjang, makanya butuh konsentrasi yang lebih selain karna soal dan jawabannya panjang pun pilihan jawabannya itu mirip-mirip, seolah-olah semua jawaban itu paling benar, kebayang dong kalo kita ngerjain subtes TKP setelah berjibaku dengan ingatan di subtes TWK dan bermesraan dengan berbagai macam rumus di subtes TIU? Hehe Tapiii itu sih pilihanku ya, kalo kalian merasa bahwa enakan ngerjakan dulu subtes TIU atau TWK itu sama sekali gak masalah, sesuai selera aja. Nah CAT ini sistemnya live skor yaa, jadi ketika kita ngerjakan tes itu diluar ruangan ada display yg nampilin nilai yg kita peroleh, pun ketika kita selesai mengerjakan tes akan langsung ditampilkan di computer kita berapa nilai yang kita peroleh. Kita tuh langsung tau apakah kita lolos passing grade atau enggak, dan saran aku sih nilai yang kita dapet langsung kita catet aja di kartu peserta kita (barangkali lupa hehe), karna keesokan harinya setelah kita ujian itu akan ada informasi hasil ujian peserta yang ditempel di tempat kita melaksanakan ujian. Informasi hasil ujian itu bisa kita manfaatkan buat dokumentasi (foto video atau apalah) pribadi barangkali suatu saat diperlukan, kenapa aku bilang gitu? Karna nih ya, meskipun sistemnya udh canggih itu bukan berarti tanpa cacat gaes, di tahun pelaksanaan ku ada beberapa peserta yang mengeluh karna nilai ujian SKD di pengumuman akhir sama nilai ketika dia selesai ngerjakan tes itu beda, nah kalo kita punya bukti sendiri kan gampang toh urusannya? Hehe

Pengumuman kelulusan SKD ini kurang lebih akan diumumkan dalam 2 sampai 4 minggu setelah pelaksanaan tes di web Kementerian masing-masing. Dan lagi, cepat atau lambatnya pengumuman itu tergantung jumlah peserta dan kesigapan panitia pelaksanaan ya, jadi bersabar adalah Koentji hihi
Setelah nunggu selama 1 bulan, muncul lah pengumuman yang ditunggu-tunggu yaitu hasil Seleksi Kompetensi Dasar. Tanpa disangka-sangka gaes, namaku ada diurutan pertama alias ranking 1 😁 kenapa bilang gak disangka? karna jujur persiapanku kurang banget sebetulnya buat tes CPNS ini. Oh iya nilai yang aku dapet di tes SKD ini TIU nya 85 (mepet passing grade), TWK nya 125 (Nasionalis banget wkwk), dan TKP nya 143 (pas-pasan banget ini), jadi total skor yang aku raih itu 353 (kecil gaes). Sebetulnya banyak temen-temen di formasi BK ini yang total skornya diatas aku gaes, tapi mereka ada salah satu subtes yang gak memenuhi passing grade nya, jadi sekalipun kalian dapet skor yang tinggi di 2 subtes tapi ada 1 subtes yang nilainya kurang dari passing grade, kalian bakal kalah sama yang total skor nya pas-pasan tapi lolos passing grade di semua subtes yaa.. Sebenernya kita kan udah tau nilai yang kita dapet setelah selesai ngerjakan tes, jadi otomatis kita tau apakah sudah lolos passing grade atau belum, tapiii misal nanti setelah tes kita sudah lolos passing grade itu jangan dulu jumawa gaes, karna bisa jadi nilai yang kita raih gak masuk di urutan ranking yang berhak mengikuti tes selanjutnya yaitu SKB. Jadi yang berhak melaju ke tes selanjutnya itu yang termasuk di dalam ranking dari 3x formasi yang ada, misal jumlah formasi ada 3 berarti yang akan melaju ke tahap selanjutnya adalah ranking 1 sampai 9. Tetap tawadhu dan terus berdoa misal kita sudah lolos passing grade 😉

Karena udah kepanjangan, kayanya sampe sini dulu aja yaa ceritanya.. Kelanjutan tahapnya perlu diceritakan juga gak nih? hehe 

Lanjutan cerita mengenai tahap seleksi setelah SKD bisa teman-teman baca disini Pengalaman Mengikuti Tes CPNS Bagian Dua 

Selasa, 11 Maret 2014

Psikologi Umum : Perspektif Belajar (Learning)


Belajar merupakan sebuah kebutuhan bagi seluruh umat manusia. Karena dengan belajar kita bisa mengetahui sesuatu yang sebelumnya belum kita ketahui. Dengan belajar pula-lah kita bisa beradaptasi dengan lingkungan dimanapun kita berada. Tetapi apakah belajar hanya bisa dilakukan dalam keadaan formal (sekolah)? Tentu tidak. Karena pada dasarnya pengalamanlah yang menuntun manusia untuk berubah dari yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu. Pengalaman berperan penting dalam proses belajar manusia, bahkan bukan hanya manusia, hewanpun membutuhkan sebuah pengalaman.
Dengan pengalaman perubahan manusia dalam segi mental, fisik, maupun perilaku menjadi relatif menetap. Karena itulah pengalaman sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran baik dalam pembelajaran formal maupun informal.
Pembelajaran juga terbagi menjadi dua jenis. Yaitu pembelajaran asosiatif dan pembelajaran melalui pengamatan. Keduanya memiliki peran berbeda dalam merubah perilaku manusia. Pembelajaran asosiatif yang memiliki metode pengondisian klasik dan instrumental bergantung kepada rangsangan dan respons yang diterima oleh si pembelajar. Sedangkan pembelajaran melalui pengamatan cenderung merubah perilaku manusia atas apa yang selama ini dia amati, dalam hal baik maupun hal buruk.
Selain definisi dan jenis-jenis pembelajaran, adapula faktor-faktor yang akan mempengaruhi pembelajaran seseorang. Faktor-faktor tersebut ialah faktor kognisi, biologis, budaya, dan psikologis. Faktor-faktor tersebut sangat mempengaruhi pembelajaran seseorang dalam memahami suatu hal maupun dalam merubah perilaku seseorang. Untuk itulah dirasa perlu dijelaskan bagaimanakah sebenarnya faktor-faktor tersebut berparan dalam pembelajaran seseorang.
Dalam mempelajari hal apapun yang bersifat baru, pastilah melibatkan perubahan. Jika kita mempelajari sesuatu, contoh abjad, pasti kita tidak akan melupakannya setelah mempelajari dan menghafalnya. Dan di kemudian hari kita tidak perlu lagi belajar melalui proses yang sama karena cukup hanya sekali kita mempelajarinya.
Dalam proses belajar, biasanya manusia mempelajari sesuatu mulai dari hal yang mudah lalu berlanjut ke hal yang lebih sulit. Contohnya ketika sd mulanya kita belajar mengenal dan menghafal abjad, lalu setelah berhasil menghafalnya berlanjut belajar untuk membacanya, ketika awal belajar membaca metode pengejaan huruf diterapkan, berlanjut dengan metode tanpa mengeja, berlanjut lagi dengan membaca cepat, dan berlanjut lagi sampai seseorang yang tadinya tidak bisa membaca kini tulisannya banyak dibaca oleh masyarakat luas. Hal tersebut melibatkan sebuah perubahan perilaku yang relatif menetap. Dan juga melibatkan pengalaman sebagai tolak-ukur kemampuan yang dimiliki.
Dari contoh tersebut, kita sampai pada sebuah definisi mengenai pembelajaran (learning). Pembelajaran dapat diartikan sebagai perubahan yang melibatkan mental, fisik maupun perilaku yang relatif menetap yang muncul melalui pengalaman.
Secara umum pembelajaran dibagi menjadi dua jenis, yaitu pembelajaran asosiasi dan pembelajaran melalui pengamatan.
“Pembelajaran asosiasi (associative learning) muncul ketika sebuah hubungan dibuat untuk menghubungkan dua peristiwa. Pengondisian (conditioning) adalah sebuah proses pembelajaran asosiasi”(Chance, 2006). Terdapat dua jenis pengondisian, yaityu klasik dan instrumental (operant).
1.         Pengondisian Klasik
            “Pengondisian klasik adalah pembelajaran dari sebuah rangsangan netral yang diasosiasikan dengan rangsangan bermakna dan memiliki kemampuan untuk menghasilkan respons yang sama”(king, 2010).
Contoh dari pengondisian klasik adalah sebagai berikut. Seorang kakak mengajak adiknya bermain ke pasar sambil membeli sesuatu. Ketika di pasar sang adik melihat pencopet yang sedang dihakimi massa. Si adik ketakutan karena baru pertama kali melihat kekerasan. Keesokan harinya Ibu mengajak adik kembali ke pasar, tapi baru saja sampai di gerbang pasar si Adik sudah ketakutan. Ketakutan sang Adik ketika melihat pasar menggambarkan proses pembelajaran yang disebut pengondisian klasik (classical conditioning). Dalam proses belajar ini, rangsangan netral (pasar) diasosiasikan dengan rangsangan lain yang bermakna6 (tempat kekerasan). Dengan hanya melihat pasar dapat menghasilkan respons yang sama ketika betul-betul melihat pengeroyokan pencopet.
Seorang ahli fisiologi asal Rusia yang bernama Ivan Pavlov, menarik kesimpulan atas eksperimen yang beliau lakukan. Kesimpulan tersebut menjelaskan bahwa sebuah rangsangan yang tidak dikondisikan (unconditioned stimulus-UCS) akan menghasilkan pula respons yang tidak dikondisikan (unconditioned respons-UCR). Pengertian dari rangsangan yang tidak dikondisikan adalah sebuah rangsangan yang menghasilkan sebuah respons tanpa pembelajaran sebelumnya. Adapun pengertian dari respons yang tidak dikondisikan merupakan respons yang tidak dipelajari, yang dihasilkan secara otomatis oleh UCS.
Adapula rangsangan yang dikondsikan (conditioned stimulus-CS) dan respons yang dikondisikan (conditioned respons-CR). Pengertian dari rangsangan dan respons tersebut adalah kebalikan dari rangsangan yang tidak dikondisikan dan respons yang tidak dikondisikan. Sama halnya dengan rangsangan yang tidak dikondisikan, rangsangan yang dikondisikan menghasilkan pula respons yang dikondisikan, singkatnya seperti ini UCS=UCR, CS=CR.


2.         Pengondisian Instrumental
Psikolog Amerika, B.F. Skinner (1938) mengembangkan konsep pengondisian instrumental. Pengondisian instrumental (operant) adalah sebuah bentuk dari pembelajaran asosiatif di mana konsekuensi dari sebuah prilaku mengubah kemungkinan berulangnya prilaku. Skinner memilih kata operant untuk menjelaskan prilaku dari organisme-prilaku yang mengoprasikan lngkungan, dan sebaliknya, lingkungan beroprasi karna prilaku.
Adapula penelitian dari E.L. Thorndike (1898) menemukan kekuatan konsekuensi dalam menentukan prilaku yang di sengaja. Ketika pada waktu yang sama saat Pavlov sedang melakukan penelitian pengondisian klasik dengan anjing yang ber-air liur, thorndike juga sedang meniliti seekor kucing yang kelaparan. Thorndike meletakkan seekor kucing yang kelaparan dalam sebuah kotak dan meletakan sebuah ikan di luar kotak tersebut. Untuk keluar dari kotak dan mendapatkan makanan, kucing tersebut harus belajar membuka pintu kotak dari sebuah pedal yang dapat diinjak dalam kotak, awalnya, sikucing membuat beberapa respon yang tidak efektif, dia menggigit dan mencar papan kayu untuk mencoba keluar dari kotak dan mendapatkan ikan tersebut. Pada saat-saat tertentu, si kucing tidak sengaja menyentu pedal yang bisa membuka kotak. Hal ini berlangsung terus, kucing tersebut melakukan usaha-usaha secara acak sehingga usaha tersebut membuat kucing menginjak pedal untuk membuka kotak.
Proses belajar ketika seseorang mengamati dan meniru (imitasi) perilaku orang lain disebut sebagai pembelajaran melalui pengamatan (observational learning). Pembelajaran melalui pengamatan sangat umum dilakukan seseorang. Baik dalam situasi pendidikan formal maupun situasi-situasi lainnya. Sebagai contoh, ketika melihat seseorang menendang bola ke arah gawang, kita dapat merasakan saat kegiatan tersebut dilakukan tanpa meminta bimbingan kepada orang lain karena kita telah memahaminya hanya dengan mengamatinya saja, adapun pembelajaran lebih lanjut tentang menendang bola umumnya dipelajari oleh seseorang yang memang menekuni dunia olahraga khususnya cabang sepak bola.
Menurut Bandura (1986) terdapat empat proses yang terlibat di dalam pembelajaran melalui pengamatan. Yaitu, perhatian, pengendapan, reproduksi motorik, dan penguatan. Agar pembelajaran melalui pengamatan dapat terjadi, hal pertama yang harus ada adalah perhatian. Untuk menghasilkan tingkah laku yang sama percis dengan seseorang yang ingin kita contoh tentu kita harus benar-benar memperhatikan apa yang diucapkan atau dilakukannya.
Pengendapan (retention) adalah proses kedua yang diperlaukan agar pembelajaran melalui pengamatan dapat terjadi. Untuk mereproduksi tindakan seorang model, kita harus menyimpan setiap informasi di dalam ingatan kita sehingga kita dapat mengeluarkan ingatan tersebut saat diperlukan. Sebuah gambaran verbalyang sederhana, atau gambar detail dari dari tindakan model dapat membantu proses pengendapan.
Reproduksi motorik (motor repruduction) adalah proses melakukan peniruan terhadap tindakan orang lain. Orang dapat memberi perhatian dan dapat mengingat apa yang telah mereka lihat. Namun, jika mereka memiliki keterbatasan metorik, maka akan sulit bagi mereka untuk mereproduksi tindakan orang tersebut.
Penguatan (reinforcement) atau pemberian insentif adalah komponen akhir dalam pembelajaran melalui pengamatan. Banyak kejadian, kita dapat memberikan perhatian dengan baik pada apa yang orang lain lakukan, mengendapkan informasi tersebut dan memiliki kemampuan motorik yang baik untuk merepruduksi tindakannya. Namun, sering kali kita gagal dalam untuk mengulangi tindakan tersebut karena kurangnya pengetahuan.
Dalam proses pembelajaran, kita hanya dapat melihat tentang proses kognitif ketika dalam pembelajaran melalui pengamatan. Pendekeatan skinner dalam pengondisian instrumental dan pavlov dengan pengondisian klasiknya sama-sama tidak memperhatikan bahwa faktor kognisi seperti ingatan, berpikir, merencanakan, dan pengharapan mungkin penting dalam proses pembelajaran.
Bahkan dalam perilaku hewan, terkadang tampaknya penting bahwa kita harus tetap memperhitungkan faktor kognitif agar bisa mendapatkan gambaran utuh tentang apa yang sebenarnya terjadi. Contohnya, salah satu aspek penting dalam melatih anjing pelayan adalah adanya ketidakpatuhan selektif. Artinya selain mematuhi peraturan yang diberikan oleh majikannya, anjing-anjing ini harus dapat melanggar perintah majikannya sewaktu-waktu jika ternyata penilaian mereka terhadap lingkungan memberikan alasan untuk melakukannya.
Sebuah contoh pengaruh biologis terhadap pembelajaran adalah instinctive drift, yaitu kecerundungan binatang untuk kembali ke prilaku insting mereka yang mengganggu pembelajaran. Kita tidak dapat bernafas di dalam air, ikan tidak bisa bermain tenis meja, dan sapi tidak dapat mengerjakan soal matematika. Struktur tubuh dan organisme memungkinkanya untuk belajar hal-hal tertentu, dan menghambat untuk mempelajari hal lain (Chance, 2006).
Ketika pengaruh behaviorisme mulai berjaya dan meluas di amerika, para ahli dalam pengasuh anak beranggapan bayi dapat di bentuk menjadi jenis anak mana pun. Perilaku sosial yang diinginkan dapat dibentuk jika perilaku yang tidak diinginkan terus menerus dihukum, tidak pernah dimanjakan, dan perilaku positif dikondisikan dan diberi ganjaran dengan hati-hati dan terkontrol. Contohnya, seorang anak yang tinggal di desa yang terkenal dengan tenunannya akan menjadi ahli dalam membuat tenun, karna dia melihat dan mengerjakan tenun setiap hari dari pada anak yang terkenal dengan kerajinan batiknya.
            Carol Dweck, menggunakan mindset atau cara berpikir untuk menjelaskan bagaimana kepercayaan tentang kemampuan kita untuk menentukan tujuan yang kita tetapkan untuk diri kita sendiri apa yang kita pikir dapat di kita pelajari, dan apa yang dapat kita lakukan. Dweck dan teman-temannya melakukan study yang menggambarkan bagaimana pikiran kita memiliki pengaruh yang kuat apakah kita dapat mencapai potensi kita (Dweck, 2002a, 2002b, 2006; Dweck & Legget, 2000).
Dweck dan teman-temannya menemukan bahwa beberapa anak mendefiniskan intelegensi sebagai sesuatu yang tetap atau fix. Anak-anak ini percaya bahwa dalam hal kemampuan akademis, yang ada adalah ‘Anda memilikinya’, atau tidak memilikinya sama sekali. Untuk anak-anak ini, bekerja keras untuk mencapai target akademis hanya menunjukan bahwa Anda tidak berbakat. Dweck menyebut hal ini sebagai teori entitas. Sebaliknya, ada pula sebagian anak yang mendefinisikan intelegensi sebagai sesuatu yang dapat ditingkatkan. Untuk anak-anak ini, usaha merupakan sebuah tnda bahwa masih ada hal-hal yang perlu dipelajari. Dweck menyebut teori ini sebagai teori penambahan, yang menekankan bahwa kita dapat menjadi lebih pintar dengan menambah kealian dan menguasai tugas-tuasg sulit.
            Penelitian telah menunjukan bahwa sistem kekebalan tubuh dapat dipengaruhi oleh efek pengondisian klasik. Sedangkan pengondisian instrumental menunjukan empat variabel penting dalam stres: keteramalan, persepsi kontrol, persepsi peningkatan, dan penyaluran frustasi.
Lalu ada modifikasi perilaku yang merupakan penerapan dari pengondisian instrumental untuk mengubah perilaku manusia. Konsekuensi dari perilaku dibangun untuk menguatkan perilaku adaptif dan mengurangi perilaku non-adaptif (Martin & Pear, 2007; Umbreit et al, 2007). Anak yang melempar kacamata dan memecahkannya mungkin terlalu banyak menerima perhatian dari guru dan teman-temannya; dalam hal ini secara tidak sengaja perilaku tersebut dapat dikuatkan. Dalam hal ini, orang tua dan guru dianjurkan untuk mengalihkan perhatian dari perilaku destruktif dan mentransfer ke perilaku yang lebih konstruktif, misalnya bekerja dengan khidmat atau bekerjasama yang baik dengan teman (Harris, Wolf, & Baer, 1964).

Modifikasi perilaku dapat menolong orang untuk meningkatkan kemampuan kontrol diri mereka dalam aspek kesehatan fisik dan mental. Karena sekaranag pengondisian instrumental telah diterapkan pada bidang kesehatan fisik dan mental, serta pendidikan.

Belajar merupakan suatu proses perubahan baik dalam mental, fisik, maupun perilaku pada manusia. Pembelajaran sangat membutuhkan pengalaman dalam prosesnya, baik pengalaman melalui pembelajaran asosiatif maupun pembelajaran melalui pengamatan. Dalam pembelajaran asosiaif terdapat dua pengondisian, yaitu pengondisian klasik dan pengondisian instrumental. Masing-masing pengondisian memiliki ciri khas serta penerapan yang berbeda dalam pembelajaran
                        Dalam pembelajaran tentu tidak serta merta berjalan lancar tanpa hambatan. Ada faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pembelajaran seseorang. Faktor-faktor tersebut ialah faktor kognisi, biologis, budaya, serta psikologis. Setiap faktor kendala terkadang menjadi hambatan yang sulit dalam pembelajaran, bergantung kepada bagaimana cara mensiasati faktor kendala tersebut agar tidak menjadi hal yang menyulitkan.
                        Pembelajaran pula berpengaruh kepada kesehatan dan kesejahteraan. Hal ini berdasarkan fakta bahwa pengondisian klasik dapat menghasilkan imunosupresi (immunosuppression), yaitu suatu kondisi dimana saat produksi antibodi menurun. Sementara dalam pengondisian instrumental menghasilkan temuan bagaimana cara manusia dalam menghadapi stres. Aspek-aspek yang manusia lakukan dalam mengahadapi stres adalah prekditabilitas, kontrol, dan peningkatan.


Jumat, 20 Desember 2013

Perilaku Berpacaran di Kalangan Mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang



Perilaku berpacaran mungkin bukan merupakan masalah bagi sebagian orang, apalagi bagi kalangan mahasiswa yang menganggap bahwa mereka sudah dewasa dan merasa perlu untuk menjalin sebuah hubungan dengan lawan jenis yang katanya tujuannya semata-mata untuk mempererat silaturahim. Mungkin masih bisa ditoleransi jika mahasiswa yang berperilaku pacaran bukan berasal dari universitas yang berciri khas islam, tapi berbeda ceritanya jika ternyata yang berpacaran adalah mahasiswa yang berasal dari universitas yang berciri khas islam, apalagi universitas islam yang negeri yang mana banyak orang menganggap bahwa mahasiswa nya adalah calon-calon ilmuan yang ulama atau ulama yang ilmuan.
Berbicara tentang perilaku berpacaran mahasiswa universitas islam negeri, tentu Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang pun tidak lepas dari sorotan masyarakat. Di universitas yang katanya menjadi PTAIN terbaik ini pun masih banyak ditemui sepasang muda-mudi yang sedang asyik memadu kasih baik di lingkungan universitas maupun di sekitarnya. Menjadi hal yang tidak lumrah tentunya, dimana di universitas ini mewajibkan semua mahasiswa baru untuk tinggal di mahad selama satu tahun, dan tentu bukan hanya numpang tinggal tetapi diwajibkan pula mengikuti kegiatan keagamaan.
Berbicara tentang pacaran, didalam islam tidak mengenal istilah berpacaran. Istilah didalam islam yang pengertiannya hampir mirip dengan perilaku berpacaran adalah berkhalwat. Jika ada sebuah pertanyaan seperti ‘apa pantas mahasiswa UIN berpacaran?’ tentu jawabannya sudah kita ketahui, bahkan sepasang kekasih yang berasal di UIN sendiri menjawab bahwa tidak pantas, tetapi mereka tetap melakukannya, bukan hanya aneh tetapi ditambah nyeleneh.
Mahasiswa yang berpacaran di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang memiliki latar belakang kehidupan sosial yang berbeda-beda. Dari segi asal daerah, ternyata tidak mempengaruhi mahasiswa UIN Maliki Malang untuk tidak berpacaran. Contohnya ketika penyusun menemukan bahwa ada sepasang kekasih yang berasal dari daerah Aceh, yang mana kita tahu bahwa agama Islam di Aceh sangatlah kental bahkan Aceh di sebut sebagai  Serambi Makkah, ternyata hal tersebut tidak mempengaruhi rasa keinginan mereka untuk berpacaran, walaupun mereka memang mengakui bahwa terkadang mereka merasa malu dengan cap di pundak mereka bahwa mereka adalah mahasiswa yang berasal dari daerah yang sangat kental dengan islam.
Dari segi pendidikan, subjek berasal dari berbagai sekolah. Ada yang berasal dari SMA yang notabene pengetahuan tentang islamnya bisa disebut kurang, ada yang berasal dari MA yang mana pada saat mereka menempuh pendidikan di MA mereka telah lumayan banyak dijejali oleh pendidikan islam, dan bahkan ada pula yang berasal dari pondok pesantren yang telah kita ketahui bagaimana sistem pendidikan di pondok pesantren, yaitu melarang santrinya untuk berpacaran.
Dari segi keluarga subjek, ada yang mengaku bahwa di dalam keluarga mereka berpacaran adalah sesuatu yang lumrah atau bisa disebut sebagai hal yang memang diperbolehkan oleh orang tua nya, asalkan masih di batas yang sewajarnya. Ada pula yang mengaku bahwa mereka sangat dilarang oleh keluarganya untuk berpacaran, tetapi pengekangan tersebut justru membuat mereka semakin ingin berpacaran meskipun harus sembunyi-sembunyi, mereka merasa sudah dewasa dan sah-sah saja jika berpacaran tanpa harus ada campur tangan orang tua.
Pada hakikatnya, gambaran realitas sosial tentang perilaku berpacaran di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang terlihat masih di batas yang sewajarnya. Tetapi faktanya, pernah di temukan beberapa pasangan baik itu mahasiswa lama maupun mahasiswa baru melakukan tindakan asusila di UIN Maliki Malang tepatnya di Gedung B pada malam hari.
Dan dari beberapa subjek yang penyusun teliti tentang perilaku berpacaran mereka, ketika penyusun tanya tentang apa saja yang mereka lakukan selama berpacaran, ada beberapa subjek yang mengaku pernah bergandengan, berpelukan, bahkan berciuman meskipun bukan di lingkungan UIN Maliki Malang. Tidak sedikit pula yang tidak mau menjawab pertanyaan tersebut dengan alasan bahwa hal tersebut adalah privasi. Bukan berpikir negatif, tetapi dengan tidak menjawab pertanyaan tersebut dengan alasan bahwa hal tersebut adalah privasi, itu sudah cukup membuktikan bahwa subjek pernah melakukan hal-hal di luar batas yang sewajarnya
            Dimana ada keburukan disitu pasti ada kebaikan, tidak semua subjek yang penyusun teliti pernah melakukan tindakan di luar batas kewajaran, cukup banyak pula mereka yang memang paham benar tentang ajaran islam mengaku tidak pernah melakukan hal yang di luar batas, mereka mengaku bahwa selama mereka berpacaran mereka hanya saling berbagi cerita dikala bertemu, mereka lebih suka menyebutnya dengan ‘pacaran secara islami’ walaupun sebenarnya tidak ada pacaran secara islami.
Bentuk permasalahan sosial yang muncul dari perilaku berpacaran mayoritas bukan dirasakan oleh orang yang berpacaran, tetapi oleh orang-orang di dalam maupun di sekitar UIN Maliki Malang baik itu mahasiswa lain maupun warga sekitar. Tentu menjadi hal yang tidak lucu jika suatu saat ada berita menyebar bahwa di kampus UIN Maliki Malang telah terjadi kasus perilaku asusila, karena kampus yang juga dikenal sebagai kampus ulul albab ini memiliki reputasi yang baik di mata masyarakat dimana masyarakat telah percaya kepada kampus ini bahwa kampus ini akan menghasilkan ilmuan yang ulama atau ulama yang ilmuan. Akan timbul sebuah pertanyaan “kalau di kampus islam saja seperti itu, bagaimana di kampus yang non-islam?” jika suatu saat benar-benar terjadi perilaku asusila di kampus UIN Maliki Malang ini.
Bentuk permasalahan sosial yang sangat jelas dari perilaku berpacaran ini adalah tentang perilaku, tentu menjadi tanda tanya besar dimanakah etika seorang mahasiswa UIN yang berpacaran. Bukankah mahasiswa UIN itu memahami tentang ajaran islam? Bukankah mahasiswa UIN itu telah ‘digodog’ selama satu tahun di mahad jami’ah? Bukankah islam melarang berpacaran? Tentu semua pertanyaan tersebut harus dan wajib dijawab “Ya”, lalu kenapa kok masih ada Mahasiswa UIN yang berpacaran? Tentu tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini, karna tidak ada pihak yag bisa disalahkan dalam hal ini, baik itu pelaku, orang tua, maupun Institusi.
Masalah sosial dari perilaku berpacaran ini muncul karena mahasiswa yang berpacaran berasal dari Universitas Islam, yang mana semua orang pun tahu bahwa islam melarang untuk berpacaran. Jangankan untuk berpacaran, bagi pria memandang wanita menggunakan nafsu saja sudah menjadi hal yang haram. Apakah dalam berpacaran bisa dipastikan bahwa sepasang kekasih tidak berpacaran karena nafsu? Tentu sangat sulit untuk berpacaran dengan  tidak menggunakan nafsu.
Dampak riil dari masalah sosial tersebut akan dirasakan oleh masyarakat ketika pelaku asusila diketahui, contoh : jika ada sepasang kekasih yang sedang melakukan tindak asusila, kemudian pasangan tersebut dipergoki oleh masyarakat, dari pemergokan tersebut diketahui bahwa pasangan kekasih tersebut berasal dari kota B kecamatan C, RT A/D. Maka otomatis masyarakat pada RT A/D akan merasa malu karna salah satu anggota dari mereka melakukan tindakan yang tidak seharusnya mereka lakukan.
Jadi dampak dari masalah sosial ini terletak pada dampak psikis baik yang akan dirasakan oleh masyarakat maupun oleh pelaku itu sendiri. Mereka akan merasa malu atas apa yang mereka lakukan atau apa yang telah anggota dari mereka lakukan.
Dahulu, istilah pacaran sangatlah asing dan tak dikenal oleh para remaja seperti sekarang ini, namun di zaman modern ini pacaran sudah merebak bak jamur di musim penghujan baik itu dalam lingkup kota maupun desa seakan sudah mengarah pada vested of interest (mengakar) ke masyarakat. Para remaja ini seolah membuat suatu tradisi kebudayaan baru yang dalam hal ini mengusung pacaran sebagai suatu budaya pada masanya. Sebenarnya mungkin itu adalah sautu kewajaran yang biasa dalam pergaulan remaja kini bahkan pacaran ini sekarang dianggap sebagai suatu kewajiban dalam prosesi pergaulan mereka. Padahal ketika dahulu prosesi pacaran ini tidaklah ada bahkan khususnya di Indonesia, pacaran itu dianggap sebagai suatu hal yang dianggap tabu dan bahkan sangat dilarang karena tidak sejalan dengan nilai dan norma khususnya dalam pandangan agama yang pada saat itu sifatnya sangat mengikat kuat terhadap masyarakat.
Pacaran menurut para remaja sendiri adalah suatu ikatan perasaan cinta dan kasih antara dua individu yakni lelaki dan perempuan untuk menjalin suatu hubungan yang lebih dekat yang pada esensinya untuk saling mengenal lebih jauh untuk menuju proses upacara sakral (menikah) atau untuk mencari pasangan hidup yang dianggap cocok. Maka dari pendefinisian itulah pacaran dinggap sebagi salah satu budaya masyarakat khususnya remaja karena merupakan hasil ide, gagasan, dan aktivitas tingkah laku keseharian mereka. Sehingga pada efeknya sekarang banyak para remaja menganggap bahwa pacaran merupakan suatu hal yang wajib sebagai jalan mendapat jodoh. Pada awalnya pacaran ini merupakan seperti yang telah dikemukakan diatas sebagai prosesi mengenal satu sama lain dengan cara mengikat dan menyatakan hubungan mereka kedalam bentuk yang bisa dikatakan formal agar dapat mengenal secara intim.
Dampak positif dari pacaran menurut subjek yang penyusun wawancarai adalah dapat menumbuhkan spirit dalam belajar, memotivasi belajar lebih giat agar menjadi orang sukses lalu dapat membahagiakan si Dia, membuat hidup lebih berwarna, serta ada seseorang yang dapat dijadikan tempat untuk berbagi cerita tentang apa-apa yang terjadi pada kita di setiap harinya.
Sedangkan dampak negatif dari perilaku berpacaran menurut subjek adalah dapat mengganggu konsentrasi belajar, merusak daya pikir seorang pelajar, membuat malas kuliah jika sedang ada masalah, dan juga tentunya dapat mendekatkan diri kepada perilaku zina, Naudzubillahi min Dzalik.
Dari segi perilaku, beberapa mahasiswa yang penyusun tanyakan tentang pantas tidak nya mahasiswa UIN berpacaran, semua setuju dengan menjawab tidak pantas. Bahkan beberapa subjek sendiri mengaku bahwa mereka merasa tidak pantas berpacaran dengan menanggung ‘Tittle’ sebagai mahasiswa UIN, tetapi mereka tetap saja berpacaran, aneh bin nyeleneh.
Rasa kasih sayang merupakan anugrah yang sangat suci dari yang maha kuasa, seluruh manusia di dunia ini pasti pernah jatuh cinta dan ingin merasakan kasih sayang dari orang yang dicintainya. Tapi tentu ada cara yang lebih baik dalam menyalurkan rasa kasih sayang dibanding dengan cara berpacaran, karna pada dewasa ini, berpacaran lebih menjurus kepada hal-hal yang negatif seperti hal nya mendekati perzinaan.
Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menyalurkan rasa kasih sayang kita kepada orang yang kita cintai adalah dengan berkomitmen untuk menjaga hati masing-masing tanpa ada fikiran ingin memiliki orang lain jika diantara kedua makhluk Tuhan ini memang sudah benar-benar tercipta rasa kasih sayang satu sama lain. Menjaga hati lalu berkomitmen untuk melanjutkan ke upacara yang sangat sakral (pernikahan) adalah cara yang dianggap paling mampu menambal dibanding perilaku berpacaran.
Perlu kita ketahui pula bahwa cinta itu suci, maka jagalah kesucian cinta itu dengan sepenuh hati kita, jangan menodainya dengan berpacaran lalu melakukan hal yang tidak-tidak, karna hal tersebut justru akan membuat cinta itu menjadi hitam kemudian hati kita hanya dipenuhi oleh rasa hawa nafsu yang didukung oleh dorongan syaitan.
Masih banyak cara lain yang lebih sehat dalam menjalin kasih sayang dibanding berpacaran yang peneliti belum bisa menyebutkan, karena pada hakekatnya setiap orang itu memiliki pandangan hidup yang berbeda-beda, tetapi perlu kita ingat kembali sebagai umat muslim kita harus menjaga betul diri kita sendiri dan keluarga kita tentunya, seperti yang telah termaktub di dalam Al-Quran yang artinya : “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” maka kita harus menjaga diri kita baik itu dari hal yang sudah dzahir merupakan sebuah dosa baik yang masih samar. Waallahualam bisshawaab.
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pacaran pada buktinya menyatakan adanya inter-dependensi (saling ketergantungan) atau ada ketergantungan-organik diantara disorganisasi sosial dan pribadi sehingga mempengaruhi kebudayaan sebelumnya pada kebudayaan sekarang dengan mengaitkan pacaran sebagai budaya dan tradisi kontemporer. Pacaran ini pun pada esensinya sangat dipengaruhi oleh media sebagai hasil teknologi yang menyebabkan proses asimilasi menjadi begitu mudah karena lingkup asimilasi kini menjangkau pada ideologi dan budaya setiap individu dengan kemungkinan waktu bersamaan secara kumulatif atau menyeluruh, sehingga terjadilah anggapan ataupun pandangan masyarakat khususnya remaja mengenai pacaran sebagai prosesi kehidupan yang harus dicoba dan dilalui.
Pacaran pada mahasiswa UIN khususnya UIN Maliki Malang dirasa tidak pantas dilakukan, alasannya seperti yang penyusun telah sebutkan sebelumnya beberapa kali. Kita ini manusia, tidak seperti binatang yang bisa seenaknya melakukan hubungan intim. Kenapa? Karena anak dari hewan tidak perlu dirawat oleh induknya, berbeda dengan anak manusia yang baru lahir yang perlu dirawat dan diawasi oleh induknya selama bertahun-tahun tergantung sampai mana anak tersebut dirasa sudah dewasa dan mampu hidup mandiri. Jika manusia berhubungan intim seenaknya maka manusia tersebut tidak ada bedanya dengan “Wedus” (kambing) seperti yang apa disampaikan oleh salah satu dosen penyusun.